Maraknya barang impor yang dijual murah dalam jangka pendek menguntungkan konsumen karena bisa berbelanja lebih banyak, namun lambat laun hal ini berkontribusi terhadap turunnya daya beli masyarakat. Hal ini merupakan salah satu kesimpulan kajian internal yang dilakukan oleh Yayasan Konsumen Tekstil Indonesia (YKTI) beberapa waktu lalu.

Direktur Eksekutif YKTI, Ardiman Pribadi mengungkapkan bahwa berdasarkan Index Purchasing Power Parity Masyarakat Indonesia menunjukan angka penurunan yang signifikan. “Inflasi yang terkendali hingga terjadinya deflasi tidak mampu faktor pendorong penguatan daya beli karena disisi lain banyaknya masyarakat yang kehilangan pekerjaan sehingga tidak mempunyai penghasilan” jelasnya.

Untuk itu pihaknya mendesak para peritel untuk lebih mengutamakan menjual produk dalam negeri dimana 80% produk pakaian jadi dan produk jadi tekstil adalah hasil produksi dari IKM. “Jadi para peritel jangan banyak alasan untuk menolak barang IKM masuk ke gerai retailnya, kalau dayabeli kita turun kan pengaruh ke tingkat penjualan retail juga” tegasnya.

YKTI juga meminta pemerintah untuk tidak ragu mengeluarkan aturan untuk melindungi produk dalam negeri khususnya produk IKM baik melalui safeguard maupun pengetatan ijin impor. “Saat ini semua negara melakukan proteksi pasarnya dari barang-barang impor karena mendahulukan produk dalam negerinya dengan tujuan menciptakan lapangan kerja dan pemerintah kita juga harus konsisten dengan visi penciptaan lapangan kerja ini” ungkapnya.

Disisi lain, pihaknya juga mengingatkan pemerintah untuk secara konsisten menghentikan dan memberantas praktik impor ilegal hingga ke akar-akarnya melalui penegakan hukum, integritas pegawai Bea Cukai dan perbaikan aturan serta prosedur kepabeanan yang menjadi penyebab utama maraknya importasi ilegal.

Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya, Nandi Herdiaman menyatakan bahwa kondisi IKM khususnya produsen pakaian jadi atau konveksi masih sangat minim order. Pihaknya berharap pemerintah dapat menindak tegas para importir nakal yang membanjiri pasar dengan produk impor murah sehingga hasil produksi anggotanya kalah bersaing.

Nandi menyatakan bahwa rata-rata utilisasi IKM dalam naungan IPKB saat ini berada dibawah 50%. “Sebagian sudah tutup, sebagian masih jalan dengan order yang minim, dan sudah ratusan ribu karyawan rumahan tidak lagi bekerja” terangnya.

“Dayabeli masyarakat yang turun menyebabkan pilihan terhadap barang impor murah semakin besar dan menyebabkan PHK” jelas Nandi. “Trend PHK ini menambah pelemahan dayabeli masyarakat, lama-lama barang impor yang murah pun sulit terbeli, dan kita selamanya akan menjadi negara miskin” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *